SMS

Rintik hujan sesekali masih tertumpah dari langit yang tak tegas menyembunyikan mendung. Walau petir sudah berhenti menghalau sunyi sore itu, tapi udara dingin yang dihantarkan angin masih setia menyambut senja bersamaku. Kurapatkan mantel parasutku, walau kubiarkan bulir-bulir air hujan itu merembes ke sela-sela rambut. Biarlah dingin itu mengejutkan saraf-saraf di  kepala, agar kewarasanku tetap siaga, walau mungkin hanya sedikit. Sangat sedikit malah.

Pikiranku entah sedang melancong ke mana. Kalau ada yang iseng bertanya apa yang sedang kupikirkan, aku yakin malaikat pun takut bertanya melihat wajahku yang sekusut daun gugur, mungkin tak satu pun yang pantas menjadi jawaban. Karena sesungguhnya, aku pun tak tau apa yang sedang kupikirkan. Aku hanya merasa… kosong. Titik. Karena apa? Jawabannya, karena siapa. Dia.

Kuraba kantongku yang menyembulkan relief persegi. Blackberryku bersemayam manis di balik sana. Aku hanya meremasnya pelan. Otakku dengan tegas memerintah otot-otot tanganku untuk tidak merenggut benda kecil itu. Aku belum siap. Terlalu takut melihat titik kecil berwarna merah yang sesekali berkedip itu. Lebih tepatnya, aku tak sanggup kecewa jika pendar merah itu tak muncul dalam detik berikutnya.

Tapi, lain akal, lain hati. Tanpa berhitung sebab akibat, tanpa menimbang resiko, kuambil pilihan untuk membuka BBku yang kutau akan kusesali kemudian. Hanya dengan sekali renggut kuraih benda hitam yang sudah jadi musuhku seminggu ini. Dengan lincah jari-jariku menyentuh angka-angka password untuk meng-unlock. Seketika darahku seperti beku. Angin yang tak mampu menerobos mantelku, sepertinya justru tersedot masuk ke jantungku, entah lewat mana. Aku diam. Terpaku kecewa.

Titik merah itu tak berpendar. SMS ku tak berbalas, seperti halnya perasaanku. Beribu mungkin pun kembali menggerogoti akal sehatku. Menelan habis semua tenaga yang tersisa. Kini bukan hanya pikirku yang hilang, rasa pun kebas.

Berjarak beberapa kelokan bukit, seorang laki-laki yang tubuhnya sudah payah terkuras pekerjaan seharian sedang mengulum senyum memandang HP nya. Tak peduli beberapa temannya sudah menggodanya yang seolah sedang mengontrak dunia lain, ia sibuk memandangi benda persegi itu. Sudah lupa ia berapa kali pesan singkat it dibaca ulang. Dibaca, di-scroll atas bawah, dibaca lagi, ditutup, dibuka, dibaca lagi. Itu saja rangkaian kegiatannya 30 menit ini. Hatinya sedang senang, lupa akan kepayahan seharian yang penuh dengan intrik rekan kerja, makian bos, dan keisengan-keisengan anak buah.

Hatinya senang. Itu saja penjelasan dari pilihannya memandangi handphone alih-alih melahap habis makanan di atas piring yang biasanya menjadi favorit. Kalau kau tanya padanya  karena apa? Mungkin jawabannya karena dia. Dia yang mengirimi pesan-pesan singkat ke benda persegi yang dipandanginya kini. Diliriknya deretan angka di ujung kiri pesan-pesan itu, tampaknya si dia mengirimkan berjam-jam lalu. Saat dia sedang di lapangan, berkutat dengan alat-alat berat sarat kebisingan. Beradu mental dengan anak buah yang bukan main keras kepalanya, tapi bukan main lemah akalnya. Aaah…maafkan. Andai saja aku seperti pria-pria berdasi yang kerjanya di dalam gedung ber-AC nan nyaman –batinnya- , sudah pasti tak kubiarkan gambar amplop tertutup itu terlalu lama bertengger di layar HP. Tak mungkin menghilangkan kesempatan beradu jari di tuts HP, saling mengirim sapa, saling mengirim senyum.

Diliriknya jam tangan kulitnya yang talinya sudah lembab menyerap keringat. Pukul 19.00. Mungkin dia baru sampai kamar. Dengan lincah ditekannya deretan angka yang sudah dia hapal setengah mati, 08522020…

Dddrrrttt…. Tiba-tiba layar HPnya menggelitik jarinya. Ada telepon masuk: mama.

“Assalamualaikum”, sahutnya menyambut suara wanita yang sangat ia hormati di muka bumi ini. 5 menit, 30 menit, 1 jam, 2,5 jam. Obrolan itu mengalir di luar kuasanya, tak bisa ia hentikan. Di balik sana, sang Bunda tampaknya sedang menjebol habis dinding kerinduannya. Mulai dari membicarakan pembantu di rumah yang mulai seenak jidat, sampai dengan kemungkinan usaha beternak itik. Saat akhirnya suara di ujung sanaa berbunyi klik, telinganya seperti mau terbakar.

Dilirik sekali lagi jam tangan yang tanpa ia sadari masih melingkar manis, walau dia sudah sedari tadi meluruskan punggung di kasur kamar. Pukul 21.40. Huffh, mungkin dia sudah tidur. Agak ragu dia hendak mengetik sebuah pesan singkat, takut akan membangunkan wanita itu, niat pun urung dieksekusi. Biarlah kutitip rindu ini pada bintang. Yang saat ini sedang menemani pujaan hatinya itu di sisi langit lain.

Tak lama suara dengkur halus terdengar. Rasa lelah dengan cepat mengantar ia ke alam bawah sadar. Membawa senyum dalam mimpinya.

Iya. Tidak. Iya. Tidak. Suara-suara itu masih bergema sumbang dalam pikiranku. Menciptakan kalut yang sama sekali tidak meredakan gemuruh kecewa yang sudah melumat semua semangatku seharian ini. Benda hitam itu masih dalam keadaan tertelungkup di samping bantal. Paling tidak nasibnya lebih baik dibandingkan beberapa hari lalu. Lebih sering benda itu kukubur di balik lembaran-lembaran di laci kantor. Berharap aku tidak akan iseng mengeceknya setiap jam, hmmmm maksudnya setiap menit.

Entah kemana perginya rasa kantuk. Sejak sejam lalu aku hanya mengganti posisi guling dan bantal. Beberapa kali kugigit ujung guling untuk menyalurkan tangis yang tak bisa keluar dihalau gengsiku yang selangit. Tak sudi aku menangis LAGI karena pria. Tidak, tidak. Sekarang aku harus lebih cerdas dan dewasa. Tidak lagi kukerahkan hati untuk mengontrol situasi ini, tapi haruslah otak yang maju berperang. Tapi, apa daya, untuk perasaan aneh bernama cinta ini, otak seperti tak ada tempat. Perasaan ini mungkin berlabel anti-pikiran, atau anti logika, atau anti akal sehat.

Sekali lagi gengsiku luluh karena rasa penasaran. Bertaruh pada secuil harapan, siapa tau kali ini titik merah itu berpendar. Menghidupkan kembali asa dan semangat yang sudah habis tertiup minggu ini.

Rasanya, detik ikut membeku saat aku membalik perlahan benda persegi itu. Walau rasanya norak berprilaku seperti aktris sinetron, tapi sungguh aku menutup mataku sambil berhitung 1…2…3… sebelum kulihat layar BBku.

Daan…kosong. Tak ada gambar amplop tertutup di ujung layar. Tak ada titik merah yang berpendar. SMS itu masih belum berbalas.

Kali ini asaku sudah benar-benar padam. Diiringi dengan buliran bening yang tak sanggup lagi kubendung, kuhapus nomor yang selama ini selalu kutunggu muncul di layar BBku. Tak kubiarkan satu pun pesan-pesan singkat yang beberapa minggu ini menyuntikkan semangat ke jiwaku bersisa di inbox.

Sudah. Sudah habis kesabaranku. Ternyata kesabaran itu tak cukup untuk bertahan di permainan yang entah harus kunamakan apa. Entah setan apa yang membisikkanide gila itu. Alih-alih menangisi semua kekecewaan, kuketik dengan cepat sebuah pesan singkat, Bukan, bukan ke nomor si dia yang kuharapkan membuat titik merah itu berpendar, tetapi pemilik nomor lain yang selalu tanpa diundang memunculkan gambar-gambar amplop di layar alat persegi ini. Si empu nomer yang tak pernah mendapat balas dariku

“I think we can try it. I will say yes.”

Sent.

Malam itu, berjarak beberapa kelokan bukit, di bawah sinar bintang yang sama, aku tertidur dalam tangis. Aku sudah memutuskan. Untuk melupakan, dan pergi berjalan, melanjutkan kehidupan di atas pilihan lain.

 

Aarrgghhhh

Dear my future boyfriend,

Please remind me to low down my voice while having night chat with you, someday we have met. Because I know how annoyed my roommate will feel about is to hear our conversation all night long while she has many things to solve in head.

Thanks and regards,

Your girlfriend who is suffering insomnia because of …

Tujuh Belas Jam

Namanya Neila Aisha. Nama yang ringkas, tapi cantik. Sama seperti orangnya yang juga ringkas alias sederhana. Tidak seperti ibu PWKK lainnya yang dari ujung kaki ke ujung kepala sibuk menempelkan segala jenis merk ternama demi mengeskalasi penampilan dan nilai banding saat arisan.

 

Tapi jangan salah, meskipun selama 6 tahun terakhir ia “hanya” sibuk dengan title ibu rumah tangga, ia sempat mengecap 2 tahun pendidikan Doktoral. Terakhir aku berkunjung ke rumahnya saat Lebaran, aku bahkan memegang dan melihat sendiri kartu mahasiswa Doctor of Philosophy bertenggerkan nama Nelila Aisha. Ya, Ibu cantik yang kini berprofesi sebagai guru SD ini memang sedang mengambil gelar Ph.D saat akhirnya memilih (ingat, memilih!) untuk menikah dan ikut suami ke jobsite. Meninggalkan kemapanan ekonomi seorang wanita single yang kerja di KBRI Malaysia sekaligus mahasiswa penikmat beasiswa.

 

Tapi bukan itu yang membuatku ingin sekali menuliskan tentang Uni yang satu ini. Ya, aku memanggilnya Uni, karena Uni yang paling aku sayang (ehem…Uni Putti) juga memanggilnya demikian. Ada kisah yang lebih membuatku menahan nafas. Kisahnya yang berdurasi 17 jam.

 

Tujuh belas jam itu 2/3 hari. Setara dengan waktu yang kuhasbiskan untuk beraktivitas dengan mata terbuka seharian, sebelum akhirnya menutup mata. Dan selama (atau lebih tepatnya seringkas) itu pula waktu yang dibutuhkannya untuk mengiyakan lamaran laki-laki yang kini memberinya sepatang putra-putri cantik dan ganteng yang luar biasa pintar (suatu saat akan kuceritakan kelucuan-kelucuan mereka).

 

Sebutlah laki-laki beruntung itu Pak Arief. Entah kenapa lidahku tidak luwes memanggilnya Uda Arief, begitu pula teman-temanku lainnya yang sampai saat ini masih memanggilnya dengan sebutan “Pak” walau memperlakukannya tidak lebih baik dan sopan dari teman sebaya hehe. Mereka bertemu dan berkenalan hanya dalam waktu 17 jam, sebelum akhirnya Pak Arief ini nekat melamar Uni Neila. Dan entah kenapa, mantra pelet itu begitu manjur, sehingga kata iya pun terlontar sebagai jawaban.

 

Saat itu usia Uni 27 tahun, terpaut 3 tahun lebih muda dari Pak Arief. Setelah memberikan jawaban “saya akan bilang ke Mama” semua persiapan pernikahan pun dilaksanakan. Tidak kalah cepat, pernikahan itu dilaksanakan tepat seminggu setelah lamaran. Seserahan dan bahkan baju pengantin wanita untuk dipakai Ijab Kabul dibeli 1 malam sebelum acara. Dan Pak Arief sendiri memutuskan memakai apa untuk prosesi, hanya beberapa jam sebelum bertatap muka dengan penghulu. Waktu seminggu terlalu berharga untuk dihabiskan mengurus perintilan pernikahan atau sekedar belanja dan mengurus catering. 7 hari habis untuk puasa dan masa pemantapan diri ke Yang Maha Kuasa untuk menjawab pertanyaan “benarkah ia jodohku?”.

 

 Tepat setelah lamaran dijawab, keduanya sepakat akan istikhoro. Jika hari-hari ke depan lebih banyak hal positif menuju pernikahan maka lampu hijau pun bermain, dan sebaliknya, lampu merah akan beraksi jika ternyata hal negatif yang didapat. Sesederhana itu persiapan mereka.

 

Lantas, bagaimana dengan keluarga? Orang tua Uni jelas tetap melaksanakan proses seleksi. Berupa ujian mengaji, yang ternyata berhasil dilampaui sang pria beruntung dengan baik. Sedangkan orang tua Pak Arief sendiri, baru berkenalan saat hari pelaksanaan prosesi, lebih tepatnya saat Ijab Kabul selesai.

 

Terlihat sederhana? Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Untuk sampai tahap itu, Pak Arief sudah meminta dengan sungguh-sungguh selama 5 tahun dan dengan yakin mengatakan ke orang tua ia akan menikah saat ia berusia 30 tahun. Dan taaaarrraaaa…. pernikahan mereka persis dilaksanakan di hari ulang tahunnya yang ke-30.

 

Dan Uni Neila? Dia pun harus menyeleksi belasan bahkan puluhan pria yang mengantri untuknya (perlu dicatat: cantik, solehah, pintar, berkarakter). Saat memutuskan menikah pun, ia harus mematahkan hati 5 pria sekaligus. Salah satunya adalah seorang diplomat yang telat menyerahkan bukti pembelian 1 unit apartement di Casablanca atas nama Neila Aisha. Tepat seminggu sebelum ia menerima lamaran, ia merevisi doa malamnya, bukan lagi “pilihkan terbaik dari yang ada”, tapi “jika sudah sampai jodohku, maka berilah aku yang seimbang dalam waktu paling cepat yang mungkin.”

 

Dan voilaaaa….. itulah jodoh. Jika memang jodoh, semuanya akan sederhana, semuanya akan mudah. Bukan hanya yang terbaik, tapi juga yang tercepat. J

 

Layangan, pasir, kanal, dan arsitek.

 Jika aku pemain layang-layang,pastilah aku yang terburuk di padang angin itu . Tak tau kapan harus menggores tangan dengan gelasan untuk menarik kendali benang, atau biarkan angin bebaskan jiwa sang layang

Pun aku sang pendiri kastil di luasnya pasir pantai, pastilah aku pionir penghancur kastilku sendiri. Tak pandai ukur kapan harus kuremas erat pasir itu bersama air asin, atau kubiarkan pasir itu terjun indah bagai remah dari sela-sela jariku.

 Bahkan aku bukanlah penjaga kanal yang teladan, terlalu sering lalai membiarkan banjir menghantam. Tak cerdik menghitung detik pintu dibuka memuntahkan air bah, atau sigap menutup pintu bertarung melawan tekanan air yang meronta.

 Aku pastilah arsitek terburuk, Pencipta benteng yang Maha tangguh tapi tak berharga untuk latari bingkai foto atau candi maha indah yang rentan tertiup angin. Jembatan otak kiri dan kananku seolah putus, hingga kekuatan dan keindahan tak pernah bertemu di titik yang proporsional.

 Adikku…

Sayangnya, kaum Adam adalah layang-layang itu, yang harus kupegang ujungnya sekaligus kubiarkan ia melayang setinggi awan.

 Dan komitmen itu serapuh dan seindah kastil yang teersusun atas remahan pasir, yang kuat sekaligus indah jika dibuat oleh tangan yang mampu menggenggam pasir tanpa menghamburkannya.

 Sedangkan cinta, bagiku ibaratnya air mengalir yang harus kuatur volume dan arusnya sehingga ia mampu menghidupi namun tidak menenggelamkan siapa yang menggantungkan nafas padanya

Dan diriku sendiri harusnya adalah arsitek untuk logika dan hatiku, yang lihai berhitung sekaligus berintuisi agar jiwa ini tidak rapuh tapi tidak juga kaku dan kosong.

Laki-laki, komitmen, cinta, dan logika adalah bahan-bahan yang sedang kupelajari takarannya untuk adonan pertalianku kelak. Layaknya seorang masterchef, aku harus bersabar meniti kegagalan demi sebuah kesempurnaan.

 

  #special for Anindita Apsari#

 

-SIMPLICITY-

Apa yang membuat gw kembali bertaruh?

Apa yang membuat dia spesial di antara segudang “kekurangan” yang mungkin lebih menonjol di mata teman-teman gw sendiri?

Apa bagian dari dirinya yang membuat gw merasakan hal menyebalkan ini lagi?

Karena kesederhanaan dia, jawabannya sesederhana itu. Kesederhanaan yang melengkapi kerumitan otak dan hidup gw. 

Sederhana yang menurut gw adalah pangkal dari nilai sebuah kejujuran dan kesetiaan.

Bad News In the Morning

Just heard a dramatic news this morning. One expat who was hired and mobilized several weeks ago, had to go back to London in emergency because of her wife and daughter death just two days after he stepped on job site. Stories laid behind his leave even sounds more dramatic. Her wife got injured when she was trying to release rope tied over her daughter’s dead body. Still unclear about how she died, her wife was passed away on the same day her daughter did. People assumed she was hitted by her daughter’s dead body then failed to breath. Other source said that his other daughter who was preganant also lost her baby on that accident while she was trying to help her mother.

Then this morning, one of my friends who had been told by his supervisor informed me that he passed away, did the same way her daughter did.

“The hardest part of being ignored is realize that you’re betting your price tag then lose.”

Dear buddy out there, you just gave me eagerness to trust somebody, but in a minute you blew it away.

— (HP,2011)

Tidak selamanya diam itu lebih baik…

 

Aku masih ingat bagaimana ekspresi dan reaksi orang-orang terdekatku saat kusampaikan keputusanku untuk bekerja di ujung Timur Indonesia. Bukan…bukan karena letaknya yang memakan waktu 6 jam perjalanan dengan pesawat jet sekalipun. Tapi, karena mendengar nama perusahaan yang akan membayar tenaga dan pikiranku: PT X.

 

Kaget.

Bingung.

Datar.

Kecewa.

Marah.

 

Mungkin yang terkesan ekstrem, tapi begitulah adanya. Pun ada seseorang yang ingat untuk mengucapkan selamat, sesaat setelah berita itu kusampaikan, apresiasi itu terucap setelah panjang lebar aku selesai menjawab pertanyaan mengapa mereka.

 

Ya … Mengapa memilih bekerja di perusahaan ini ?

 

Mungkin kalau hal ini tidak menyangkut salah satu value dasar yang kupegang, dengan ringan aku akan menjawab karena saat ini perusahaan asing itulah yang beruntung memanggilku tes, meluluskanku, dan kemudian mengajukan hiring. Jawaban bohong, tapi paling tidak energiku tidak perlu terbuang memutar otak. Ketimbang aku harus membeberkan rentetan logis pertimbangan-pertimbanganku yang sebenernya melibatkan cerita-cerita personal orang-orang terdekatku.

 

Tapi, argument-argument yang mengikuti pertanyaan mengapa mereka justru seperti meledakkan sumbu dalam logika berpikirku. Argumen-argumen klise yang sering kudengar dari mulut-mulut orang sebelumnya, tapi aku sendiri gak menyangka keluar juga dari orang-orang terdekatku yang kuharapkan memiliki tingkat intelejensi sekaligus kepekaan nurani yang sedikit di atas rata-rata. Semua argument itu pada intinya memuat ide sekaligus emosi senada, meskipun dikemas dalam paraphrase yang beragam. Kurang lebih, intinya seperti ini:

 

Kenapa mau bekerja untuk perusahaan penjajah yang udah ngerok kekayaan Indonesia dengan semena-mena? Dengan bekerja untuk perusahaan itu, berarti ikut berkontribusi terhadap setiap tindakan anarkis dan penjajahan yang dilakukan Negara adidaya Amerika sebagai pemilik saham… Intinya, orang seperti kamu harusnya bisa memilih tempat bekerja yang lebih “positif”…

 

Aku tercenung ketika mendengar kalimat-kalimat itu meluncur-mengalir dari mulut-mulut orang-orang terdekatku. Banyak fakta yang kebenarannya tidak bisa kubantah dari argument mereka, tapi poin yang justru lebih membuat aku bergidik adalah ergo dan sikap yang mereka ambil. Lantas, pertanyaan mengapa itu pun kujawab…

 

Jika memang, kalian yakin tanah kita sedang dijajah dan dikeruk oleh Negara lain untuk dijadikan modal melakukan aksi kebrutalan lainnya, lantas mengapa kamu hanya diam? Apakah dengan menonton dan mengomentari penjarahan itu, kemudian Negara kita akan terbebas dari penjajahan modern itu? Jika memang kalian mengaku sebagai orang-orang idealis yang tidak mau memakan uang haram yang dicuri dari saudara sendiri, lantas mengapa idealism mulia itu tidak menggerakkan otak dan badan kalian untuk menolong saudara kita yang jadi korban?

 

Kawan, saran untuk mencari pekerjaan yang lebih “mulia” sungguh aku hargai karena aku yakin niat baiklah yang mendasari itu semua, tapi sayangnya … aku memutuskan langkah lain. Karena satu hal yang kuyakini adalah…

 

Satu-satunya cara untuk merubah suatu dunia adalah dengan masuk ke dalamnya dan tenggelam dengan segala keruwetan yang ada padanya. Hanya dengan cara itu saya akan merasa lebih baik dari penonton yang gemar berkomentar sambil melipat tangannya J

 

Two ways communication means…

After haven’t had chit-chat-time-before-sleep for long time, last night my roommate and I had a (really) long discussion about “why two way conversations means a lot” for us. Start at 10 11.15 pm and ended at 02.00 am, it was triggered by simple confession from my roommate that her relationship has not going well for at least last one month. It answered question on my head why I could fall asleep easily recently because the absence of disturbing phone chat at late night :P (uups! kidding mate hehe).

The answer of question above is simple: it’s because he isn’t as talk-active as we expect. I’m not wondering if you say that it sounds childish. Well, I hope you (hey all men ootside!!) will realize that isn’t silly as you thought if you know how deep the meaning of “you’re being active on our daily conversation” is for us.

We are not talking about kind of characters, whereas we clearly understand that people has different types of personality where ones tend to be more communicative while others feel more comfortable on silence. But, I’m sure that all of you agree about the importance of communication on relationship. Even my roommate and I strongly agree that it is the most critical factor to maintain relationship. Unfortunately, having only 24 hours while 1/2 costs for work and 1/3 costs for life activities (eating,sleeping,showering) not including regular excercises, means we only have about 3 hours or less to be in touch in private world. Limited time that is supposed to be chance for spouses to focus on each other.

Then, the next question is…

Would you (refers again to men) will still labelling us “too-much” or “demanding” if we (refers to women) ask you be ours on that limited time? Being a boy friend does not only mean that you are calling or texting your girl on time, because we know that those activites have been on your to-do list with natural alarm feature. It means more about how you could build quality communication with your spouse. Let’s say that situasiton and condition not enable us having dates often and phone call, BBM, YM, text message, e-mail are other alternatives left for us, will you think that being a good listener on phone call, or simple yes/no answer on chat good enough to communicate each other?  

Dear boy friends, after having stressful work time, all we need is being relax by sharing everything with someone we love and care. Don’t care about how cliche stories you share and how many times you have told those routine activities to us, your willing to let us know about you means more for us. Being a good listener for us does not make us think that you are patient mature man, adversively it means (unfortunately) you have no passsion. If you said that you are tired or you have nothing to tell or everything just goes like usual, so do we! Being a talk-passive person is one thing, but trying to build good communication is different. Most painful thought of all is being the only one who fights for this relationship. 

For your information, we are not trying to push you be another person that you aren’t, nor neglect your needs to have your boy-time, but please convince us that you want this relationship as much as I do :)

Sincerely,

Me and my roommate.  

Hello (again) my tumblr :)

Have I told you that there are only 2 things could push me to write: anger and sadness. Since none of them attacks me recently, my timeline was empty of updates.

I think, I have to re-think the idea. I will start writing (again) not because of the existence two of them, but writing for updates my own heart and mind about what I am thinking and feeling.

Dear tumblr, please welcoming me :)